Berfikir Keras

sebenarnya ini post yang sangat malesin kalo dibaca, tapi gimanadong.. lagi galau-bingung-hingga harus berfikir keras!

malam ini lagi ga bisa tidur, iseng-iseng liat blog-blog orang dan blog sendiri yang sudah lama nggak keurus. Setelah liat-liat dan ngutak-ngatik saya sedikit tertarik dengan fitur-fitur yang disajikan blog dan mulai berfikir untuk beralih dari tumblr ke blog. disatu sisi, blogspot punya ruang lebih luas untuk pengguna dalam menulis, explore, ngedesign blognya, dan juga lebih mudah share & diaksesnya. misalnya kalo orang mau cari artikel tentang A, kalo kita menulis tentang A akan langsung muncul kan digoogle. So your post looks like more useful daripada cuma terpakai sebagai ‘diary’. Tapi disisi lain, tumblr pewe banget yah, mulai main sejak 2009 sampe sekarang masih pewe aja. tumblr lebih mudah dalam ngepost dan masih seperti layaknya social media lain disini kita masih bisa repost/reblog post-an orang lain. 

entah kebingungan ini berakhir dengan apa, tapi sudah satu setengah jam saya buka tutup kedua jejaring ini. huftness.

Long Distance Relationship

Who’s ever said  that long distance relationship is never work? I dont think so :P :P here’s i wanna  share to you guys my experienced about Long Distance Relationship atau LDR yang pernah aku jalankan.

Aku dan Rudi kurang lebih 2 tahun 7 bulan menjalankan LDR (& thanks god its over now) Saya kuliah di jakarta dan dia di luar kota. kita sama-sama tinggal dijakarta. Cuma aja, pacar saya ceritanya kuliahnya ngerantau gitu :p

Hmm.. menjalani hubungan jarak jauh, tentunya lebih punya banyak rintangan, karena kita lebih sering dipisahin sama jarak dan amat-sangat tergantung sama yang namanya alat komunikasi! Menurutku LDR atau nggak, semua balik lagi sih ke basic dari hubungan itu sendiri yaitu komunikasi dan kepercayaan.

Tapi, entah mengapa, aku selalu anggep LDR atau enggak, semua sama aja. Dan yang failed atau enggak, semua sangat tergantung yang ngejalaninnya menurutku.. selama ngejalanin LDR, aku gak pernah anggep itu adalah rintangan, dan aku coba buat smuanya seru aja.

Beruntung aku ditemukan dengan orang yang sangat kooperatif ( halah, macem tim densus 88)  jadinya kami selalu nyoba buat ngebawa ini jadi asik ajah. Gak terlalu dibawa beban dan was-was karena percayalah itu cuma bikin kita lelah dan akhirnya berdampak negatif bagi hubungan.

emang gak kangen?” // ya kangen! Lebih dari orang pacaran gak LDR pastinya, Cuma kami mencoba untuk gak lebay. I mean, kami bercoba berfikir untuk tidak larut oleh rasa-rasa seperti itu, karena memang banyak yang harus dikejar.

emang gak takut dia macem-macem?” // ya takut! Tapi kan komunikasi dan aku juga usahakan untuk kenal lingkungannya. Berusahalah untuk mendengar seluk beluk kehidupnya biar dia tetap merasa kita ‘ada’ disampingnya.

intinya adalah, sadar akan hal-hal yang harus dilakukan dan jangan terlarut dengan perasaan. berabe! 

hal yang paling ku suka dari ngejalanin LDR adalah aku jadi belajar untuk selalu bersyukur. Mungkin ini yang bikin aku gak pernah ngerasa bosen dan selalu manfaatin waktu walaupun sesebentar mungkin.

Banyak banget yang bilang miris, kasian atau apaaa.. tapi aku enjoy aja tuh. Selama pacarku lagi ada dijakarta, pasti kita autis sama idup kita berdua, jalan sana sini, ngabisin waktu penting ga penting, yang penting ketemu. Dan kalo lagi jauh, biasanya aku puas-puasin untuk quality time sama temen-temen dan diri aku! Hahaha.

Mungkin itu jadi salah satu hal yg positive dr LDR buat aku, aku ngerasa, masih punya ruang buat diri aku buat q-time sama diri aku, kuliah, kerjaan, temen temen, dan ga tergantung sama pacaaaaar setiap waktu.


Love,

Alia, yang sukses LDR dengan pasangan :p

LDR lovestories hubunganjarakjauh loveinspiration

“Love Rosie, 2014”
“You deserve someone who loves you with every single beat of his heart, someone who thinks about you constantly, someone who spends every minute of every day just wondering what you’re doing, where you are, who you’re with, and if...

Love Rosie, 2014

“You deserve someone who loves you with every single beat of his heart, someone who thinks about you constantly, someone who spends every minute of every day just wondering what you’re doing, where you are, who you’re with, and if you’re OK. You need someone who can help you reach your dreams and protect you from your fears. You need someone who will treat you with respect, love every part of you, especially your flaws. You should be with someone who could make you happy, really happy, dancing on air happy.”
Cecelia Ahern, Love, Rosie


this afternoon is my 2nd time i watched this movie. entah kenapa suka banget, and this is my first romantic drama that can makes my tears fallin’ down hahaha. (biasanya cuma tersentuh sama film2 family drama)

sebenernya cerita dari film ini standar namun gemes, tapi dapat dibilang cara mereka menyampaikan cerita, melalui gambar dan obrolannya bagus! A british romantic comedy drama starring with Lilly Collins and Sam Clafin is based on Where Rainbows End. the story starts from the age of 5 Rosie Dunne and Alex Stewart have been best friends, as they take on life they just end up getting separated time and time again. When it comes to love it’s just everyone else but each other.

Playing with Pakcoy

image

hi-hi-hallo! akhir-akhir ini lagi suka banget nge-mix&match buah untuk dijadikan jus dan yang lagi paling disuka adalah memasukan sayuran Pakcoy kedalam campuran buah-buahan yang ku mixed. 

idk, but dibanding dimakan sebagai sayuran aku lebih suka menjadikan Pakcoy sebagai minuman dicampurkan dengan buah-buah. selain karena rasanya yang lebih enak kalau di jus, karena menciptakan rasanya manis, Pakcoy juga berguna untuk perawatan kulit, pembentukan kolagen, pencegah penuaan dini dan merendahkan kolesterol. here’s one of my fave is Pakcoy, Strawberry, and Banana mixed juice. 


Cheers!

-si pecinta Jus pisang

Kapan menikah?“ "Kapan mau dilamar?”

(Omg, diumur yang masih belia ini, kenapa orang disekitar gw slalu menanyakan hal ini) apa gw sudah terlihat cocok menjadi istri? Atau bahkan untuk jadi ibu? (Crying)

Semua perempuan pasti pernah mimpi jadi pengantin cantik, bahagia yang akan menjalani hidup dengan pria pilihannya. So do i. Gak cuma waktu kecil tapi sampai sekarang setiap melihat happy brides dipelaminan gw masih suka memimpikan itu kok. But yess, inget disalah satu buku ada yang menulis kalo perempuan lebih mengimpikan pernikahan dibanding memperkuat hati&fikirannya akan hidup setelah pernikahan. kalo difikir pendek, emang pengen banget jadi manten.

Tapi merubah status menjadi istri orang kayaknya gak mudah. Banyak banget orang yang sudah menikah mengeluh akan pernikahannya, dan saya risih mendengarnya. (‘cucian kotor’ didapur kok dibawa-bawa kerumah tetangga) dan ketika pertanyaan annoying ini berlanjut lagi:
“Kenapa? Kan cewek mah umur segini wajar kali” “jangan ngejar sukses, gak akan ada habisnya” “kan udah ada pasangannya, tunggu apa lagi?” (Hhhh..gw janji untuk tidak akan menjadi orang yg nanya2 hal ini sekalipun bsk ada pangeran yang ngelamar gw)

Ya!! Betul. Ada pasangannya. Mungkin kadang ini yang membuat orang-orang jadi sering nanya kearah situ. (Iyalah, kalo gw jomblo terus ada orang yang nanya gini, yang ada gw toyor) walaupun punya pasangan atau calon, dan gw sudah selalu merasa i found mr right and i do love him, tapi tetep aja tidak semudah itu.

Materi? Tidak. Karena gue jg tidak mimpi menikah ala Nagita Slavina. Mengejar karir? Tidak juga. Masalah umur? Ya gw masih muda, tapi tidak menutup kemungkinan karena banyak orang yang sudah siap diumur segini. (Bukan gue)

Bersyukur gue tidak terlalu mupeng melihat teman-teman yang sudah mendahului gue. Kadang bersyukur juga saya masih dikasih kesempatan untuk menjadi single dulu sampai sekarang. Lebih bersyukur lagi, karena memiliki keluarga yang tidak terlalu peduli mau anak menikah umur berapa juga, yang penting happy.  Karena menurut gue, menikah butuh mental yang kuat. Sesepele mental untuk berbagi tempat tidur yang dulu lega karena di isi sendiri nanti akan lebih terasa sempit ataupun mental untuk mendengarkan ngoroknya pasangan mu sepanjang malam hingga hal-hal penting seperti, mengenal keluarganya,  mengerti pola hidupnya sehari-hari, dll.

Dan apakah pasanganmu juga sudah siap untuk itu? ini yang penting! dan kemungkinan beberapa orang yang ingin menikah lupa akan hal ini. jangan karena kalian merasa sudah siap atau ingin menikah, kalian merasa mempunyai power untuk mendesaknya. Hingga sekarang gw belum pernah menanyakan serius karena itu adalah pertanyaan horor menurut gue. Guepun gak mau membebani hidup pasangan gue dengan desakan-desakan seperti itu, i have a dreams so do him, and his family.

 
I found right man, and i do love him inilah hal yang bikin gue bersyukur (untuk kesekian kalinya) karena gw tipe orang yang berfikiran kalo menikah umur berapa aja oke, asal mental siap dan dengan orang yang tepat.
Menjadi pendamping untuk orang yang tepat, diwaktu yang tepat :) #cie


Indy Theme by Safe As Milk